Dosen Pascasarjana Unilak Soroti Bencana Ekologis Riau dalam Seminar Nasional AIPI dan Universitas Budi Luhur

Selasa 02 Jun 2026 09:06:01 ± 3 menit baca Dibaca 25x Pasca
Dosen Pascasarjana Unilak Soroti Bencana Ekologis Riau dalam Seminar Nasional AIPI dan Universitas Budi Luhur
Dosen Pascasarjana Unilak Soroti Bencana Ekologis Riau dalam Seminar Nasional AIPI dan Universitas Budi Luhur

Riau (Unilak) — Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak), Dr. M. Rawa El Amady, M.A., menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Nasional Hibrida Seri Ke-1 bertajuk “Mengkritisi Realita dan Wacana: Bencana Alam dan/atau Bencana Antroposen?” yang diselenggarakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bekerja sama dengan Universitas Budi Luhur dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Rabu (29/4/2026).

Kegiatan yang menghadirkan akademisi, peneliti, dan praktisi kebencanaan dari berbagai daerah di Indonesia tersebut membahas secara kritis fenomena bencana yang selama ini kerap dipahami semata sebagai peristiwa alam, padahal dalam banyak kasus dipengaruhi aktivitas manusia dan tata kelola lingkungan yang tidak berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Rawa El Amady memaparkan materi berjudul “Bencana sebagai Konstruksi Kekuasaan: Perspektif Ekologi Politik atas Krisis Antroposen di Riau dan Kepulauan Riau.” Melalui paparannya, ia menyoroti berbagai persoalan ekologis di Riau dan Kepulauan Riau, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, banjir, abrasi pesisir, degradasi gambut, hingga konflik agraria yang dinilai tidak dapat dilepaskan dari relasi antara kebijakan negara, kepentingan korporasi, dan penguasaan ruang hidup masyarakat.

Menurutnya, bencana yang terjadi di Riau tidak lagi dapat dipandang semata sebagai siklus alamiah, melainkan merupakan akumulasi dari aktivitas manusia yang berlangsung secara sistematis dalam jangka panjang.

“Bencana ekologis di Riau dan Kepulauan Riau bukan sekadar fenomena alam, tetapi merupakan produk struktural dari relasi kuasa, fragmentasi tata kelola, dan akumulasi utang lingkungan yang terus berlangsung,” ujar Dr. Rawa dalam pemaparannya.

Ia menjelaskan bahwa framing “bencana hidrometeorologi” selama ini sering kali hanya menempatkan cuaca ekstrem sebagai penyebab utama, sementara faktor-faktor struktural seperti deforestasi, ekspansi industri berbasis lahan, kerusakan hidrologis gambut, serta lemahnya pengawasan tata ruang kurang mendapat perhatian serius.

Dalam presentasinya, Dr. Rawa juga memaparkan dinamika bencana di Riau sejak 2015 hingga 2026. Ia menunjukkan adanya pergeseran pola bencana dari dominasi kebakaran hutan dan kabut asap menuju peningkatan banjir ekstrem, abrasi pesisir, hingga penurunan kualitas ekosistem gambut.

Selain itu, ia menyoroti ketimpangan dampak ekologis yang dirasakan masyarakat lokal. Menurutnya, keuntungan ekonomi dari eksploitasi sumber daya alam lebih banyak terpusat pada kelompok elit dan korporasi besar, sedangkan masyarakat di wilayah terdampak justru menghadapi risiko ekologis, kehilangan akses sumber daya, dan konflik lahan.

“Ketika ruang hidup masyarakat bertumpang tindih dengan konsesi industri, maka konflik sosial dan kerentanan ekologis menjadi sesuatu yang sulit dihindari. Dampak terbesar justru dirasakan masyarakat lokal yang hidup paling dekat dengan kawasan eksploitasi,” jelasnya.

Dr. Rawa turut mengangkat persoalan penguasaan lahan, konflik tenurial, hingga kerusakan kawasan konservasi yang menurutnya memperlihatkan adanya hubungan erat antara ekspansi ekonomi dan meningkatnya risiko bencana ekologis di wilayah Riau dan Kepulauan Riau.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya membangun paradigma baru dalam pengelolaan lingkungan dan kebencanaan, yakni dengan menghadirkan tata kelola yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak pada ketahanan ekologis masyarakat.

Seminar nasional ini menjadi bagian dari upaya akademik untuk memperluas pemahaman publik mengenai konsep “bencana antroposen”, yakni kondisi ketika aktivitas manusia menjadi faktor dominan yang memengaruhi perubahan lingkungan dan meningkatkan risiko bencana.