Pakar UNILAK Tekankan Integrasi Nilai Etika dalam Revolusi Pendidikan AI Indonesia

Selasa 14 Oct 2025 10:39:32 ± 2 menit baca Dibaca 121x Pasca
Pakar UNILAK Tekankan Integrasi Nilai Etika dalam Revolusi Pendidikan AI Indonesia
Pakar UNILAK Tekankan Integrasi Nilai Etika dalam Revolusi Pendidikan AI Indonesia

Pekanbaru - Indonesia memulai langkah bertahap untuk memasukkan pembelajaran kecerdasan buatan (AI) ke dalam kurikulum nasional mulai tahun ajaran 2025/2026. AI dijadikan mata pelajaran pilihan pada tingkat Sekolah Dasar kelas 5–6, SMP kelas 7–9, serta SMA/SMK kelas 10, sebagai respons terhadap era digital yang kian berkembang. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan literasi digital dan kemampuan siswa beradaptasi dengan tantangan teknologi masa depan.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendukung penuh penerapan AI dalam pendidikan, menekankan kebutuhan adaptasi yang cepat serta penggunaan AI secara bertanggung jawab oleh siswa dan guru.

Di sisi lain, ada suara akademik berpengaruh yang memberi penyeimbang dan arahan etis dalam revolusi pendidikan ini. Associate Professor Dr. Marwa M.A., Ketua Program Studi S2 Pedagogi di Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (UNILAK) di Riau, menegaskan bahwa pembelajaran AI bukan sekadar kemajuan teknis, tetapi juga revolusi nilai dan etika dalam pendidikan.

“AI dalam pendidikan perlu diposisikan sebagai mitra cerdas yang mendukung pembelajaran secara reflektif, kreatif, dan kolaboratif, tanpa mengurangi peran kemanusiaan yang esensial. Relasi empatik antara pengajar dan pelajar serta pembimbingan moral harus menjadi ruh utama pendidikan,” ujar Dr. Marwa. Ia mengingatkan risiko jika inovasi teknologi dijalankan tanpa landasan nilai yang kuat.

Menurut Dr. Marwa, tantangan utama bukan sekadar menguasai teknologi, melainkan memastikan AI menjadi alat pemberdaya yang adil dan merata, khususnya di wilayah dengan akses pendidikan yang terbatas. Tanpa fokus pada keadilan dan etika, AI berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan antar daerah maupun antar peserta didik.

Ia juga menekankan pentingnya pengembangan kurikulum berbasis literasi AI yang tidak hanya mengajarkan teknologi, tetapi juga membekali mahasiswa dan guru dengan kemampuan menilai dampak sosial dan etis AI.

Dr. Marwa mengajak kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan pedagogi, ilmu komputer, psikologi pendidikan, dan manajemen teknologi untuk mewujudkan pendidikan AI yang berkarakter manusiawi. Kepemimpinannya dalam mengintegrasikan nilai kemanusiaan ke dalam gerakan pendidikan AI memberikan warna penting terhadap arah revolusi pembelajaran di Indonesia. Dengan fondasi nilai yang kokoh, masa depan pendidikan diharapkan tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga beradab dan memberdayakan.

Dengan sinergi dukungan pemerintah, institusi pendidikan, serta pemikiran kritis dari tokoh-tokoh pendidikan seperti Dr. Marwa, Indonesia siap menjadi pelopor pendidikan AI yang tidak sekadar pintar secara teknis, tetapi juga melekat pada nilai-nilai kemanusiaan, mewujudkan revolusi pembelajaran yang sesungguhnya.