Pekanbaru — Dampak bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera perlu dilihat secara lebih komprehensif dari perspektif kebijakan publik. Bencana tidak semata-mata disebabkan oleh faktor alamiah, tetapi juga berkaitan erat dengan pilihan kebijakan dan tata kelola pembangunan yang diterapkan.
Sekretaris Program Studi Magister Kebijakan Publik Pascasarjana Universitas Lancang Kuning, Dr. Sulaiman Zuhdi, S.Sos., M.Si, menilai bahwa masih lemahnya integrasi kebijakan menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko dan dampak bencana.
“Melihat dampak bencana alam yang terjadi di Sumatera dari perspektif kebijakan publik, ini bukan semata-mata faktor alamiah saja, melainkan juga hasil dari pilihan kebijakan dan tata kelola pembangunan,” ujarnya.
Menurutnya, lemahnya integrasi antara kebijakan penataan ruang, perlindungan lingkungan, dan mitigasi risiko bencana mencerminkan belum optimalnya koordinasi lintas sektor maupun lintas level pemerintahan. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kerentanan wilayah terhadap bencana.
“Lemahnya integrasi antara kebijakan penataan ruang, perlindungan lingkungan, dan mitigasi risiko bencana menunjukkan kegagalan koordinasi lintas sektor dan level pemerintahan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dr. Sulaiman Zuhdi menambahkan bahwa bencana alam yang terjadi juga mengindikasikan belum kuatnya arus utama pengurangan risiko bencana dalam kebijakan sektoral. Sejumlah kebijakan strategis dinilai masih berjalan secara terpisah tanpa mempertimbangkan dampak risiko bencana secara menyeluruh.
“Kebijakan infrastruktur, kehutanan, dan ekonomi sering berjalan sendiri-sendiri tanpa mempertimbangkan dampak risiko bencana yang lebih komprehensif,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa evaluasi kebijakan publik perlu diarahkan pada penguatan integrasi dan sinergi antar sektor, agar upaya pengurangan risiko bencana dapat menjadi bagian utama dalam proses perencanaan dan pembangunan. Pendekatan kebijakan yang terkoordinasi diharapkan mampu meningkatkan ketahanan wilayah serta meminimalkan dampak bencana di masa mendatang.