Unilak - OPINI - Libur Tahun Baru 2026 kembali menjadi momen yang dinanti banyak orang. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan, terminal dan simpul transportasi padat penumpang, sementara destinasi wisata ramai oleh keluarga yang ingin melepas penat. Mobilitas meningkat tajam dalam waktu singkat, hal ini dapat dilihat dari aktivitas perjalanan moda transportasi khususnya transportasi darat, meningkatnya mobilisasi volume kendaraan dari daerah kabupaten kota menuju ke ibukota provinsi atau sebaliknya. Namun, memasuki akhir dan awal tahun, satu faktor penting kerap menyertai euforia liburan: kondisi cuaca yang tidak selalu bersahabat. Hujan dengan intensitas tinggi, genangan air, hingga potensi banjir di sejumlah wilayah menjadi tantangan nyata selama libur Tahun Baru. Kombinasi antara lonjakan mobilitas dan cuaca ekstrem menjadikan risiko keselamatan semakin besar. Sayangnya, faktor cuaca sering dipandang sebagai gangguan biasa, bukan ancaman serius yang harus diantisipasi dengan matang.
Perjalanan darat menjadi sektor paling rentan dalam kondisi tersebut. Jalan licin akibat hujan, jarak pandang yang menurun, serta genangan air yang menutup permukaan jalan meningkatkan potensi kecelakaan lalu lintas. Di beberapa daerah, banjir bahkan memaksa pengendara melintasi jalur alternatif yang belum tentu aman. Situasi ini diperparah oleh kelelahan pengemudi dan perilaku berkendara yang kurang disiplin saat arus lalu lintas padat. Tidak sedikit pengendara yang tetap memaksakan perjalanan meski kondisi cuaca buruk, demi mengejar waktu liburan. Padahal, hujan lebat dan banjir bukan hanya memperlambat perjalanan, tetapi juga meningkatkan risiko rem blong, (Aquaplaning atau hydroplaning) adalah kondisi berbahaya saat ban kendaraan "mengambang" di atas lapisan air di jalan, sehingga kehilangan traksi dan kontak dengan aspal, yang menyebabkan hilangnya kendali, pengereman, dan arah kemudi, hingga kendaraan mogok di tengah jalan. Dalam situasi seperti ini, kesiapan kendaraan dan kehati-hatian pengemudi menjadi faktor penentu keselamatan.
Risiko tidak berhenti ketika perjalanan darat berakhir. Di destinasi wisata, cuaca juga memainkan peran besar terhadap keselamatan pengunjung. Wisata alam seperti pantai, sungai, dan kawasan pegunungan sangat dipengaruhi oleh kondisi hujan. Arus sungai yang tiba-tiba meningkat, ombak yang lebih tinggi, tanah yang labil, serta jalur wisata yang licin dapat memicu kecelakaan bila tidak diantisipasi dengan baik. Bahkan di kawasan wisata buatan, hujan deras dapat menyebabkan genangan, korsleting listrik, hingga kepadatan pengunjung di ruang tertutup. Ironisnya, dalam suasana liburan, peringatan cuaca dan imbauan keselamatan sering diabaikan. Banyak pengunjung tetap berenang, mendekati aliran air, atau melanjutkan aktivitas wisata meski kondisi sudah tidak aman. Keselamatan kerap kalah oleh keinginan untuk menikmati liburan sepenuhnya. Padahal, cuaca ekstrem tidak memberi ruang kompromi terhadap kelalaian. Libur Tahun Baru 2026 seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa keselamatan sangat dipengaruhi oleh faktor alam. Pemerintah memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi cuaca secara akurat, mengatur lalu lintas di wilayah rawan banjir, serta menyiapkan langkah antisipatif di titik-titik rawan kecelakaan dan bencana. Penutupan sementara jalur atau objek wisata tertentu bukanlah bentuk pembatasan kebebasan, melainkan upaya melindungi keselamatan publik. Pengelola destinasi wisata juga memegang tanggung jawab besar. Standar keselamatan harus disesuaikan dengan kondisi cuaca, termasuk pembatasan aktivitas, penyediaan rambu peringatan, serta kesiapsiagaan petugas dalam menghadapi keadaan darurat. Mengutamakan keselamatan pengunjung jauh lebih penting daripada mengejar jumlah kunjungan sesaat. “Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang tentang Penanggulangan Bencana.”
Dalam hal ini Kunci utama tetap berada pada kesadaran masyarakat. Perjalanan di tengah hujan dan potensi banjir menuntut sikap lebih sabar dan bijak. Menunda keberangkatan, memilih rute aman, mematuhi peringatan cuaca, serta tidak memaksakan aktivitas wisata di kondisi berisiko adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. Liburan yang aman selalu lebih berharga daripada liburan yang dipaksakan. Budaya keselamatan sejatinya diuji justru ketika situasi menjadi tidak ideal. Hujan, banjir, dan cuaca ekstrem adalah bagian dari realitas akhir tahun yang tidak bisa dihindari. Yang bisa diubah adalah cara menyikapinya. Euforia liburan tidak seharusnya mengalahkan kewaspadaan, karena risiko tidak pernah ikut libur. Tahun Baru 2026 semestinya menjadi awal yang lebih bijak. Menjadikan keselamatan sebagai prioritas, termasuk dalam menghadapi cuaca buruk, adalah resolusi sederhana namun bermakna. Perjalanan yang aman bukan sekadar soal tiba di tujuan, tetapi juga tentang kembali ke rumah dengan selamat, tanpa membawa cerita duka. Pada akhirnya, keselamatan adalah urusan kemanusiaan. Libur Tahun Baru 2026 tidak seharusnya diwarnai oleh kecelakaan dan musibah yang sebenarnya bisa dicegah. Dengan kewaspadaan, kepatuhan, dan kepedulian bersama, perjalanan darat dan aktivitas wisata tetap dapat dinikmati meski hujan turun dan tantangan alam hadir. Merayakan tahun baru adalah hak setiap orang. Namun pulang dengan selamat, terutama di tengah cuaca yang tidak menentu, adalah tanggung jawab bersama. Tahun Baru 2026, mari pastikan keselamatan tidak ikut libur.
Ke sabak auh mencari udang
Singgah sebentar di tepian sawah.
Pengelola amanah, pengunjung pun senang,
Wisata selamat membawa tuah.
Oleh : Dr. Husni Mubarak, ST.,M.Sc.,CST - Ketua Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning