Tantangan Literasi dan Numerasi Pasca Pandemi Perlu Direspons dengan Pendekatan Deep Learning

Rabu 31 Dec 2025 11:49:00 ± 2 menit baca Dibaca 25x Pasca
Tantangan Literasi dan Numerasi Pasca Pandemi Perlu Direspons dengan Pendekatan Deep Learning
Tantangan Literasi dan Numerasi Pasca Pandemi Perlu Direspons dengan Pendekatan Deep Learning

Pekanbaru — Tantangan literasi dan numerasi siswa pasca pandemi tidak hanya ditandai oleh penurunan kemampuan membaca dan berhitung, tetapi juga oleh melemahnya pembelajaran bermakna atau deep learning. Kondisi ini menjadi perhatian serius dalam dunia pendidikan karena berpengaruh langsung terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa.

Ketua Program Studi Magister Pedagogi Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning, Assoc. Prof. Dr. Marwa, S.Pd.I., M.A., menjelaskan bahwa selama masa pandemi, proses pembelajaran cenderung berorientasi pada penyelesaian tugas dan capaian administratif, sehingga keterlibatan kognitif dan reflektif siswa menjadi terbatas.

“Dari perspektif pedagogi, tantangan literasi dan numerasi pasca pandemi tidak hanya terletak pada penurunan kemampuan dasar, tetapi juga pada lemahnya deep learning, yaitu pembelajaran yang mendorong pemahaman mendalam, penalaran, dan transfer pengetahuan ke konteks nyata,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut berdampak pada kemampuan siswa dalam memahami teks secara kritis, menafsirkan informasi, serta menyelesaikan soal numerasi yang berbasis konteks kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan perlunya perubahan pendekatan pembelajaran yang lebih bermakna dan berorientasi pada proses berpikir siswa.

Menurutnya, pendekatan deep learning menjadi relevan untuk menjawab tantangan literasi dan numerasi pasca pandemi. Pendekatan ini menekankan keterkaitan konsep, keterlibatan aktif siswa, serta integrasi keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam proses pembelajaran.

“Literasi dan numerasi seharusnya tidak diajarkan sebagai keterampilan yang terpisah, tetapi diintegrasikan secara lintas mata pelajaran melalui aktivitas pembelajaran berbasis masalah, proyek, diskusi analitis, serta eksplorasi teks dan data autentik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dr. Marwa menegaskan bahwa penguatan literasi dan numerasi ke depan perlu diarahkan pada transformasi pedagogi, termasuk melalui penerapan asesmen formatif yang menilai proses berpikir siswa, bukan semata-mata jawaban akhir. Guru juga perlu dibekali kompetensi pedagogis untuk merancang pengalaman belajar yang menantang secara kognitif, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan siswa pasca pandemi.

Dengan pendekatan tersebut, peningkatan literasi dan numerasi diharapkan tidak hanya berorientasi pada capaian jangka pendek, tetapi mampu membentuk kemampuan belajar siswa yang berkelanjutan.